Mesin Tetas PUI-100
Dengan mengikuti tata cara penetasan telur yang benar, keberhasilan telur yang menetas dengan mesin penetas Pesona Unggas PUI-100 ini bisa di atas 90 %. Dengan cara tradisional biasanya dibawah 50 %. Baca Selengkapnya...
Mesin Penetas PUI-30
Mesin penetas PUI-30 adalah salah satu solusi untuk membantu meningkatkan produktivitas peternakan unggas. Dengan ukuran PUI-30 yang relatif kecil maka efektif untuk penetasan telur unggas yang berukuran besar maupun kecil seperti telur burung. Sangat tepat untuk para hobis dan untuk penelitian. Baca Selengkapnya...
Pembibitan DOC Ayam Kampung
Usaha Penetasan Telur Ayam untuk menghasilkan anak ayam atau DOC (Day Old Chick) merupakan salah satu alternatif usaha dibidang peternakan unggas, yang merupakan bagian dari penyediaan bibit ayam. Baca Selengkapnya.....
Beternak Burung Kenari
Burung kenari (serinus Canaria) pertama kali ditemukan di kepulauan Canary oleh penjelajah perancis, Jean de Bethencourt pada tahun 1402. Terkesan karena keindahan bulu dan kemerduan suaranya, Jean de Bethencourt dan Henry the navigator membawa burung kenari liar ke Portugal dan Inggris. Baca Selengkapnya....
Ayam Kampung
Ayam kampung merupakan keturunan dari ayam hutan merah (Gallus gallus) dan ayam hutan hijau (Gallus varius). Akibat proses budidaya dan perkawinan antar keturunan secara alam, maka muncullah berbagai macam tipe ayam dengan beragam penampilan fisik dan varitas. Baca Selengkapnya...
Ayam Serama
Ayam Serama merupakan jenis ayam hasil persilangan Ayam Kapan alias kate kaki panjang dengan ras Ayam Modern Game Bantam. Penyilangnya adalah Wee Yean Een yang berasal dari Malaysia. Ia menyilangkan kedua jenis ayam tersebut Pada tahun 1971. Baca Selengkapnya....
Burung Puyuh
Burung Puyuh merupakan jenis burung yang tidak dapat terbang, ukuran tubuh relatif kecil, berkaki pendek. Merupakan bangsa burung (liar) yang pertama kali diternakan di Amerika Serikat, tahun 1870. Dan terus dikembangkan ke penjuru dunia. Baca Selengkapnya...
Ayam Cemani
“Ayam cemani merupakan ayam yang memiliki dominan warna hitam pada kuku, kulit, bulu, paruh, mata, daging, tulang, dan lidah, bahkan kadang ada juga yang berdarah hitam. Ayam ini oleh kalangan tertentu diyakini memiliki kekuatan magis“ Baca Selengkapnya...
Ayam Mutiara
Ayam mutiara (Guiena Fowl) merupakan unggas yang banyak diternakkan sebagai hewan hias. Ayam mutiara memiliki bentuk tubuh dan warna bulu yang menarik untuk dilihat. Bulu-bulunya dihiasi dengan bintik-bintik seperti mutiara. Baca Selengkapnya...
Ayam Ketawa
Ayam Ketawa dikenal masyarakat karena suaranya yang unik menyerupai suara tertawa. Kokok ayam ketawa yang panjang dan memiliki cengkok yang khas membuat pesona ayam yang satu ini menempati posisi tersendiri bagi penggemar unggas. Baca Selengkapnya...
Ayam Pelung
Ayam Pelung dikenal masyarakat karena kemerduan suaranya. Kokok ayam pelung yang panjang dan memiliki cengkok yang khas membuat ayam ini memiliki nilai jual yang tinggi. Baca Selengkapnya...
Ayam Bekisar
Ayam Bekisar merupakan keturunan F1 hasil perkawinan ayam hutan jantan (Gallus varius) dan ayam Kampung betina (Gallus gallus domesticus). Bekisar dikembangkan sebagai ayam kesayangan untuk menghasilkan ayam hias yang indah bulu dan suaranya. Baca Selengkapnya...
Itik Petelur
Itik dikenal juga dengan istilah Bebek (bhs.Jawa). Nenek moyangnya berasal dari Amerika Utara merupakan itik liar ( Anas moscha) atau Wild mallard, Baca Selengkapnya...
Pakan Alternatif Azolla
Azolla microphylla mengandung kadar protein tinggi antara 24-30%. Kandungan asam amino essensialnya, terutama lisin 0,42% lebih tinggi dibandingkan dengan konsentrat jagung, dedak, dan beras. Dengan kandungan protein yang tinggi tersebut Azolla bisa dijadikan pakan alternatif untuk ternak unggas terutama ayam dan itik. Baca Selengkapnya...
Burung Merpati
Burung Merpati yang sering menyabet gelar juara dalam berbagai kontes akan memiliki harga jual tinggi bahkan sangat fantatis. Di mana harga merpati balap yang sering menjadi jawara dapat mencapai ratusan juta rupiah. Ada peluang yang cerah dalam budidaya merpati. Baca Selengkapnya...
Usaha Ternak Ayam Arab
Ayam Arab, memiliki keunggulan-keunggulan lain yang jarang diketahui masyarakat. Sehingga penulis mencoba untuk memberikan wawasan dan informasi yang diharapkan mampu untuk mengubah anggapan mengenai peluang usaha ayam arab. Baca Selengkapnya...
Penetasan Dua Tahap Sistem Setter dan Hatcher
Penetasan telur dengan menggunakan mesin penetas yang dilakukan masyarakat pada umumnya memakai sistem satu tahap. Maksudnya adalah selama satu periode penetasan mulai dari hari ke-1 sampai telur menetas dilakukan dalam satu mesin tetas dan dalam satu rak telur yang sama.
Namun tidak demikian pada penetasan telur yang dilakukan oleh peternak-peternak atau farm-farm yang besar. Mereka menggunakan sistem dua tahap. Massa pengeraman (pemanasan + pemutaran) dilakukan terpisah dengan massa penetasan. Penetasan dengan sistem dua tahap menggunakan dua jenis mesin tetas, yakni mesin tetas Setter dan mesin tetas Hatcher.
Setter adalah mesin tetas yang berfungsi hanya sebagai pengeraman telur, digunakan untuk memanaskan dan memutar telur mulai hari ke-3 sampai 3 hari menjelang telur menetas. Mesin tetas biasanya menggunakan rak telur putar.
Hatcher adalah mesin tetas yang berfungsi hanya sebagai penetasan telur, digunakan untuk memanaskan telur selama 3 hari terkhir sampai telur retak sampai menetas. Mesin tetas biasanya menggunakan rak telur tetap.
| AYAM | ITIK | ANGSA | PUYUH | |
|---|---|---|---|---|
| MESIN TETAS SETTER | 18 | 25 | 28 | 24 |
| MESIN TETAS HATCHER | 3 | 3 | 3 | 3 |
| TOTAL HARI | 21 | 18 | 31 | 17 |
| SUHU (C) | 37 | 37 | 37 | 37 |
| KELEMBABAN | 55-60 | 55-60 | 55-60 | 50-55 |
Telur unggas yang akan ditetaskan perlu melalui 2 (dua) tahapan, sebagai berikut :
1. TAHAP SETTER (Masa Pengeraman) : Telur diletakan di rak yang akan berputar perlahan sampai kemiringan 45° selama beberapa hari (lihat table diatas).
2. TAHAP HATCHER (Masa Penetasan) : Tahap menunggu proses netas ini telur tidak boleh diputar lagi, sesudah 3 - 4 hari telur akan menetas.
Penggunaan setter dan hatcher secara umum memberikan keuntungan sebagai berikut:
- Lebih memudahkan pengaturan penetasan secara periodik, misalnya teknis penetasan setiap 1 minggu sekali.
- Lebih efisien dalam waktu penetasan, karena telur hanya dimasukkan 18 hari (telur ayam), 25 hari (telur itik), 14 hari (telur puyuh)
- Meningkatkan daya tetas. Pada tahap hatcher akan memudahkan pengaturan kelembaban, karena telur usia 3 hari menjelang menetas pada hatcher kelembabannya harus dinaikkan 5 – 10% lebih besar daripada setter untuk memudahkan proses piping (pecah kulit telur).
- Memudahkan dalam pembersihan, karena hanya mesin tetas hatcher yang harus sering dibersihkan, sedangkan mesin tetas setter bisa digunakan terus menerus tanpa terputus.
Kerugian penggunaan mesin tetas setter dan hatcher terpisah adalah biaya investasi lebih besar karena harus membeli 2 mesin tetas, serta penggunaan listrik lebih besar. Namun demikian, sistem setter dan hatcher terpisah mempunyai keuntungan daya tetas relatif lebih tinggi terutama untuk penetasan dalam jumlah yang besar diatas 1000.
Mesin Tetas Jenis Still Air Vs Forced Air
Dalam proses penetasan secara buatan terdapat dua type mesin tetas yang digunakan. Kedua jenis tersebut adalah Still Air Incubators dan Forced Draught Incubator. Berikut akan kami ulas mengenai kelebihan dan kekurangan serta definisi dari masing-masing jenis.
1. Jenis Still Air
Still Air dapat diartikan aliran udara yang penyebarannya tetap, atau secara alami satu arah dari tempat yang bersuhu relative panas ke tempat bersuhu relative dingin. Penyebaran panas pada mesin tetas jenis Still Air terpancar pada satu titik ke permukaan telur saja, sehingga berakibat penerimaan panasnya tidak dapat merata. Kelembaban udara hanya diperoleh dari uap air didalam nampan/bak air yang ditempatkan di bawah rak telur. Pada type ini harus dilakukan pemutaran telur agar mendapat panas yang merata. Sumber pemanasnya bisa berasal dari minyak tanah (teplok), listrik, briket bioarang (anglo).
Mesin tetas jenis Still Air biasanya digunakan pada mesin tetas sederhana berkapasitas telur yang terbatas, yakni sekitar 100 - 350 butir telur ayam saja. Hal ini dikarenakan pada jenis still air hanya mengandalkan perambatan panas dari sumber pemanas menuju permukaan telur secara alami saja, sehingga kurang efektif jika digunakan pada mesin tetas berkapasitas besar. Merakit mesin tetas sederhana kapasitas kecil (misalnya 30 – 100 telur) akan mendapatkan daya tetas yang optimal sampai 90% . Walaupun tanpa kipas untuk sirkulasi udara, tanpa semprotan uap air untuk mempertahankan kelembaban udara sekitar sudah cukup memadai.
2. Type Forced Air
Forced Air dapat diartikan aliran udara yang penyebarannya dipaksakan, sehingga terjadi sirkulasi udara yang mengalir didalam ruang mesin tetas. Dengan kipas angin (mini box fan) akan mengalirkan udara panas merata ke seluruh bagian inkubator, memaksa apa yang seharusnya bergerak ke atas bisa ke bawah, berputar dan sesekali menghisap udara segar dari ventilasi untuk mempertahankan kadar oksigen yang cukup untuk telur-telur yang tetaskan. Bahkan dalam kondisi tertentu untuk membuang karbon dioksida dengan membuka exhaust (ventilasi) dengan menghindari efek kehilangan kelembaban yang terlalu tinggi.
Namun membangun mesin tetas kapasitas besar dengan jenis forced air tidak semudah membangun tipe kecil pada jenis still air. Dengan kata lain tidak hanya sekedar membesarkan ukurannya saja. Perubahan ukuran dari kecil ke besar dalam faktanya tidak hanya sekedar memperbesar ukuran kotaknya saja, melainkan harus mempertimbangkan berbagai perubahan thermodinamika atau sifat pemerataan panas dan kelembaban akibat perubahan ukuran inkubator dan disainnya dimana inkubator ukuran besar menuntut rancangan rak bersusun untuk efisiensi ruangan.
Tags:
Pengaruh Lama Penyimpanan Telur Unggas Terhadap Daya Tetas
Dari beberapa penelitian yang pernah dilakukan, disimpulakan bahwa lama penyimpanan telur unggas berpengaruh nyata terhadap daya tetas telur saat ditetaskan.
Jika kita lihat bahwa ayam kampung yang dipelihara masyarakat peternak, bahwa seekor induk ayam yang baik apabila di dalam satu kali siklus bertelur rata-rata menghasilkan 8 - 12 butir telur, atau lebih. Kemudian mengeram dan hasil yang di peroleh biasanya dapat menetas semua, namun tidak menutup kemungkinan ada beberapa induk yang mengerami telurnya yang memungkinkan tersisa dan tidak dapat menetas. Ini akibat dari adanya faktor-faktor yang mempengaruhi daya tetas, antara lain pengaruh musim, utamanya musim hujan, karena kelembaban terlalu tinggi menyebakan telurnya banyak yang busuk.
Menurut Blakely dan Bade (1991) bahwa meskipun pada kondisi optimum, telur akan turun daya tetasnya bila periode penyimpanan sebelumnya lebih dari 7 hari. Berdasarkan hal tersebut di atas, maka diadakan penelitian mengenai lama penyimpanan telur. Sampai sejauh mana pengaruh lama penyimpanan telur terhadap fertilitas, daya tetas telur dan berat tetas anak ayam kampung. Dapat disimpulkan bahwa:
1. Lama penyimpanan telur tidak ber-pengaruh terhadap fertilitas dan berat tetas anak ayam buras.
2. Lama penyimpanan telur berpengaruh terhadap daya tetas telur. Telur yang disimpan lama persentase daya tetas-nya rendah.
Tabel 1. Pengaruh lama penyimpanan telur terhadap fertilitas, daya tetas dan kematian embrio.
| Lama penyimpanan (hari) | Fertilitas (%) | Kematian embrio hari 1-7 (%) | Kematian embrio hari 8-14 (%) | Kematian embrio hari 15-21 (%) |
|---|---|---|---|---|
| 2 | 95,8 | 3,1 | 1,4 | >6,6 |
| 4 | 95,2 | 1,7 | 3,3 | >7,7 |
| 6 | 93,9 | 2,7 | 1,8 | >8,0 |
| 8 | 93,4 | 2,4 | 2,0 | >12,5 |
| 10 | 94,4 | 2,0 | 2,3 | >13,7 |
| 12 | 90,0 | 4,1 | 3,0 | >13,5 |
| 14 | 92,3 | 3,9 | 3,3 | >14,9 |
| 16 | 90,9 | 5,1 | 3,3 | >17,0 |
Dari tabel hasil penelitian, tampak bahwa daya tetas telur berkurang ketika telur disimpan selama lebih dari 7 hari. Hasil penelitian ini mengkonfirmasi pengalaman praktis dan menunjukkan bahwa telur disimpan selama 2, 4, atau 6 hari memiliki daya tetas yang sama. Ada penurunan yang signifikan dalam daya tetas telur ketika disimpan selama 8 hari dibandingkan 6 hari, tetapi tidak ada penurunan lebih lanjut dalam daya tetas terjadi ketika telur yang disimpan selama 10, 12, 14, atau 16 hari.
Beberapa Hal Yang Berkaitan Dengan Proses Penetasan
Berikut ini adalah berbagai hal yang perlu diketahui oleh para peternak unggas berkaitan dengan proses penetasan telur.
A. NILAI SEX RATIO UNTUK MENGHASILKAN TELUR FERTIL.
Sex ratio adalah perbandingan jumlah jantan dan betina pada bangsa unggas menentukan tingkat fertilitas telur yang dihasilkan. Fertilitas telur wajib hukumnya untuk telur yang akan ditetaskan. Imbangan jantan dan betina ( jantan : betina ) pada bangsa unggas dapat tetapkan sebagai berikut : untuk angsa 1 : 3 sampai 4 ekor, itik 1:10 sampai 15 ekor, ayam ras 1 : 5 sampai 8 ekor, buras 1 : 8 sampai 10 ekor, puyuh (Coturnix coturnix japonica) 1 : 3 sampai 4 ekor, merpati 1 : 1 (monogami). Semakin kecil sex rationya akan menghasilkan tingkat fertilitas yang tinggi pula, disebabkan karena kesempatan untuk kawin setiap saat ada, bila dibandingkan dengan jumlah yang melebar. Namun bila ditinjau dari segi ekonomis imbangan yang sempit merugikan, oleh karena itu sebaiknya pedoman yang penulis uraikan dapat dijadikan patokannya.
B. HARGA TELUR TETAS LEBIH MAHAL DARIPADA TELUR KONSUMSI.
Jenis telur pada bangsa unggas dibagi menjadi 2 jenis, jenis pertama yang disebut telur konsumsi dan yang kedua telur tetas. Telur konsumsi adalah telur yang berasal dari induk bangsa unggas yang tidak mempermasalahkan mengenai fertilitas, telur-telur tersebut ada yang dibuahi oleh pejantan ada pula yang tidak, bahkan ada yang seluruh telur-telur tersebut tidak dibuahi oleh pejantan (contohnya telur ayam ras dengan sistem kandang baterai. Dengan demikian telur konsumsi tidak bisa ditetaskan karena infertil (tak subur). Telur tetas adalah telur yang berasal dari induk yang telah dibuahi oleh pejantan, sehingga dapat ditetaskan karena telur tersebut fertil (bertunas atau memiliki bakal embrio). Oleh karena telur tetas berasal dari induk jantan dan betina maka jumlah unggas yang dipelihara lebih banyak bila dibandingkan yang tanpa pejantan ( sebagai misal : untuk memperoleh telur setiap hari 10 butir, jika imbangan jantan betina 1 : 2, maka jumlah unggas yang dipelihara 10 ekor induk betina dan 5 ekor pejantan untuk menghasilkan 10 butir telur tetas, sedangkan untuk menghasilkan telur konsumsi 10 butir, maka jumlah unggas yang dipelihara hanya 10 ekor induk saja). Dan menurut pengalaman penulis unggas yang dicampur jantan dan betina produksi telurnya lebih rendah bila dibandingkan dengan unggas induk sejenis, hal ini diduga terganggunya saat bertelur. Berdasarkan tersebut maka biaya produksinya lebih banyak induk penghasil telur tetas, dengan demikian umumnya harga telur tetas lebih mahal bila dibandingkan dengan telur konsumsi.
C. CLUTCH BERPENGARUH PADA DAYA TETAS TELUR.
Clutch adalah jarak antara peneluran pertama ke peneluran berikutnya yang terjadi pada unggas ( misalnya tanggal 1 induk bertelur sebutir dan tanggal-tangal berikutnya si induk tersebut bertelur kembali). Ada 2 jenis Clutch, jenis pertama clutch sempit dan ke dua clutch renggang. Sebagai contoh clutch sempit jika si induk bertelur setiap hari, sedangkan clutch renggang jika si induk bertelur selang beberapa hari. Jadi clutch berkorelasi terhadap tinggi rendahnya produksi telur unggas. Menurut Sugandi (1990 ) bahwa semakin tinggi produksi telur induk akan menghasilkan tingkat daya tetas yang tinggi bila dibandingkan dari induk yang berperoduksi rendah. Hal ini diduga jika induk unggas berproduksi tinggi berarti Induk tersebut berasal dari bibit genetik yang unggul, berasal dari induk yang diberi nutrisi yang rasional, pembentukan sebutir telurnya normal.
D. MUNGKINKAH SATU EKOR INDUK UNGGAS MENGHASILKAN 2 BUTIR TELUR SEHARI ?
Saluran telur pada unggas disebut oviduct. Saluran tersebut dibagi menjadi beberapa bagian, diantaranya ialah : infundibulum, magnum, istmus, cloaka. Secara normal sebutir telur melewati bagian-bagian tersebut memakan waktu sekitar 25,1 jam ( sehari lebih 1 jam ). Nah, dengan demikian secara ilmu pengetahun yang berkiblat pada dalil yang mengatakan bahwa sebutir telur dibentuk selama sehari lebih satu jam, maka tak akan mungkin seekor induk akan bertelur sehari 2 butir.
E. MASA KRITIS DALAM PROSES PENETASAN.
Masa kritis adalah waktu yang sangat penting dan penentu keberhasilan dalam proses penetasan telur. Masa kritis pertama dihitung dari hari ke satu sampai dengan hari ke tiga setelah telur dimasukkan dalam mesin tetas. Untuk masa kritis pertama ini seluruh telur bangsa unggas adalah sama hitungannya. Dalam masa kritis pertama ini akan terjadi proses pembentukan alat-alat vital dalam organ tubuh embrio seperti pembuluh darah, jantung, ginjal dll, agar pembentukan organ vital tersebut dapat berjalan dengan sempurna harus dibutuhkan suhu mesin tetas untuk ayam 38 oC. Oleh karena itu jika saat masa kritis pertama tersebut sumber pemanasnya terganggu (listrik mati, lampu teplok yang tak memenuhi syarat), maka akan terjadi kegagalan karena embrio mati. Pada masa kritis ke dua, yakni pada 3 hari terakhir semua organ tubuh termasuk bulu sudah terbentuk. Nah untuk melakukan pemecahan pada kulit telur (proses pipping) si embrio tersebut membutuhkan energi atau tenaga untuk proses pipping, yang mana dibutuhkan suhu sekitar 38 - 39 oC dan kelembaban 70 – 80 %. Nah, jika suhu dan kelembaban tak terpenuhi karena sumber pemanas terganggu ( listrik mati, dsb), maka akan terjadi kegagalan sehingga embrio tidak menetas sebab mati didalam telur (mati bungkus). Dengan demikian faktor suhu, kelebaban dan operatorlah yang memegang peranan penting dalam mengatur agar masa kritis dapat berjalan dengan lancar.
F. HUBUNGAN ANTARA JENIS TELUR DENGAN KEBUTUHAN PANAS DALAM MESIN TETAS.
Yang termasuk unggas (poultry) adalah ayam, itik, kalkun, entok, puyuh, merpati, angsa, walet dan atau bangsa burung lainnya. Dari jenis unggas tersebut yang sudah banyak dikonsumsi masyarakat dan diteliti oleh peneliti adalah ayam, itik, kalkun, puyuh, entok dan angsa. Semakin besar tubuh dari unggas ada kecenderungannya untuk menghasilkan besaran telurnya semakin besar pula. Dalam proses penetasan suhu dan kelembaban dalam mesin tetas memegang peranan penting disamping faktor-faktor lainnya. Jika telur dari jenis unggas tersebut akan ditetaskan maka kebutuhan akan suhu dalam mesin tetasnya akan berbeda pula. Hal ini disebabkan karena semakin besar telur akan menghasilkan embrio yang lebih besar pula., begitu pula panas yang dibutuhkan untuk pembentukan dan perkembangan embrio akan semakin besar pula.
G. LEBIH BAIK KELEMBABAN TINGGI DARIPADA KELEMBABAN RENDAH.
Satuan untuk menghitung dari kelebaban adalah prosentase (%). Semakin tinggi sebarannya maka semakin memberikan proses pipping (peretakan cangkang telur) yang lebih sempurna, yang pada akhirnya memberikan tingkat daya tetas yang meningkat. Mengapa semikin tinggi Rh semakin baik dalam proses penetasan karena dengan tinggi Rhnya maka embrio akan mudah menyerap Ca dan P yang ada di cangkang telur yang dapat digunakan sbg pembentukan tulang, sehingga pada proses pipping yang berperan dens ovifragusnya maka pemecahan telur saat pipping dapat berjalan dengan sempurna. Selain hal tersebut pada kelembaban tinggi akan menghasilkan anak-anak unggas yang tidak cacat sebab asupan Ca dan P tercukupi.
H. JARAK BAK AIR PADA MESIN PENETAS BERPENGARUH TERHADAP PROSES PIPPING.
Perlu diketahui bahwa normal atau tidak normalnya besaran kelembaban (%) dalam mesin tetas dapat berpengaruh terhadap proses pipping dan pada akhirnya akan menyebabkan tingkat daya tetasnya. Sumber adanya kelembaban tingig atau rendah berasal dari bak air dalam mesin tetas dan penyemprotan pada permukaan telur tetas yang ditetaskan dalam mesin tetas. Bak air dalam mesin tetas pada mesin tetas type Still mutlak adanya. Saran penulis usahakan luasan bak air sebesar luasan dari rak telur. Jika syarat tersebut tak dipenuhi, pasti akan menghasilkan daya tetas yang rendah, begitu pula jarak bak air dengan jarak rak telur sebaiknya diusahan sedekat mungkin (2 sampai 5 cm). Jika kedua syarat itu dipenuhi maka akan menghasilkan tingkat daya tetas yang tingi. Mengapa? karena dengan luasan dan ketinggian yang berimbang maka akan menghasilkan besaran persentase kelembaban yang optimal untuk menetaskan telur unggas, karena akan memberikan tingkat kelembaban antara 60 – 80 %, besaran persentase tersebut sudah memenuhi untuk proses penetasan.
I. SUHU MESIN PENETAS TIPE STILL AIR LEBIH TINGGI DIBANGING TIPE FORCE,
Ada dua type mesin tetas yang digunakan dalam proses penetasan telur. Type pertama adalah jenis mesin type Still Air Incubators dan type kedua adalah Force Draught Incubator. Type Still Air Incubators biasanya berkapasitas telur yang ditetaskan terbatas, yaitu sekitar antara 100 a/d 350 butir telur ras. Sumber pemanasnya bisa berasal dari minyak tanah (teplok), listrik, briket bioarang (anglo). Oleh karena fokus pemanas terpancar pada satu titik ke permukaan telur saja berakibat penerimaan panasnya tidak dapat merata sehingga type ini mutlak harus dibalik agar mendapat panas yang merata. Dengan demikian karena Still panasnya hanya dari permukaan atas saja maka suhunya harus lebih besar bila dibandingkan dengan Force. Force panasnya berasal dari kipas angin (box fan) yang ada di dalammnya, yang mana panas tersebut akan didistribusikan ke segala arah, sehingga dengan suhu yang rendah bila dibandingkan dg still, force sudah bisa memanasi telur-telur yang ditetaskan.
J. APAKAH DIPERLUKAH PEMUTARAN TELUR SELAMA PROSES PENETASAN?
Ada terdapat 2 type mesin tetas yang ada di pasaran saat ini, yaitu type Still Air dan type Force Draught. Type still karena fokus dan atau sumber pemanas mengarah ke satu titik saja yaitu titik kepermukaan rak telur dalam mesin tetas. Itu berarti aliran panasnya tidak merata ke seluruh permukaan telur yang ditetaskan, dengna demikian mesin tetas type StillAir mutlak harus dibalik atau diputar setiap saat. Pertanyaannya berapa kali ? jawabannya setiap detik, setiap menit, setiap jam, atau bahkan setiap hari BOLEH DILAKUKAN, tetapi inggat! jika setiap detik, atau setiap menit atau setiap jam dilakukan pembalikan RESIKONYA suhu dalam mesin tetas akan BERFLUKTUASI (situasi suhu yang berfluktuasi inilah menyebabkan emrio akan mati sehingga daya tetasnya NOL). Nah agar diperoleh suhu yang merata dan suhu yang tak berfluktuasi maka sebaiknya pemutaran atau pembalikan telur dilakukan sehari 3 kali saja yaitu pagi, siang dan sore hari, ini akan menghasilkan panas yang merata berakibat embrio berkembang dengan sempurna dan akan memberikan tingkat daya tetas yang tinggi. Sedangkan type Force, karena adanya kipas angin yang otomatis dalam mesin tetasnya maka akan memberikan panas yang merata ke semua penjuru permukaan telur pada rak telurnya. Dengan demikian type mesin tetas ini tak perlu dibalik atau diputar.
K. BOLEHKAH DALAM SATU MESIN TETAS DITETASKAN 3 JENIS TELUR YANG BERBEDA?
Setiap jenis bangsa unggas yang berbeda, akan menghasilkan telur yang berbeda pula baik warna, bobot dan bentuknya. Sedangkan seleksi telur tetas yang akan ditetaskan meliputi : bobot telur, umur simpan telur, warna telur, masa inkubasi telur dlsb. Secara faktual dari 3 jenis telur dari telur (misalnya) telur puyuh, ayam ras dan itik; mempunyai karakteristik yang sangat berbeda : 1. Bila ditinjau dari bobotnya (telur puyuh bobotnya sekitar 10 – 11 gram, ayam ras 55 – 60 gram sedangkan telur itik sekitar 60 - 70 gram), 2. Bila ditinjau dari masa inkubasinya ( telur bermasa inkubasi 18 hari, ayam 21 hari dan itik 28 hari), 3. Bila ditinjau dari masa kritis ( telur puyuh mempunyai masa kritis I : hari ke 1 s/d hari 3 dan masa kritis ke II hari ke 15 s/d hari ke 18; telur ayam mempunyai masa kritis I hari ke 1 s/d hari ke 3 dan masa kritis II hari ke 18 s/d hari ke 21; sedangkan itik mempunyai masa kritis I hari ke 1 s/d hari ke3 dan masa kritis II hari ke 25 s/d hari ke 28). Nah, dengan melihat adanya perbedaan yang sangat prinsip tersebut terutama MASA KRITISNYA, maka jika ke 3 jenis telur unggas yang berbeda bangsanya tersebut ditetaskan bersamaan dalam satu mesin tetas DIPASTIKAN TAK AKAN MENETAS, mengapa karena saat masa kritis ke II untuk puyuh mesin tetas tak boleh dibuka dan tak boleh dibalik, untuk ayam dan itik masih bisa dibuka dan dibalik, sehingga terjadi KEKACAUAN DALAM PENGETRAPAN MASA KRITIS KE II nya, padahal masa kritis kedualah yang berperan penting dalam proses pipping dan tingkat daya tetasnya. Dengan dapat disimpulkan TIDAK DIPERKENANKAN DITETASKAN DARI KETIGA JENIS TELUR UNGGAS YANG BERBEDA BANGSANYA.
L. PERLUKAH FUMIGASI PADA TELUR DAN ATAU MESIN TETAS ?
Fumigasi adalah mensucihamakan mesin tetas dari mikroorganisme yang menenmpel dan atau masuk dalam mesin tetas dengan menggunakan zat kimia. Zat kimia yang sering digunakan adalah KMnO4 (Kalium permanganat) yang dicampur dengan Formaldehide 40 %. Mengapa sampai saat ini zat kimia tersebut masih digunakan? karena zat kimia tersebut tidak merusak mesin tetas dan peralatannya, tidak tergantung dari suhu dan kelembaban linkungan baik lingkungan internal dan eksternal dari mesin tetas, murah harganya, mudah melakukannya, dan mudah didapat/dibelinya, dan yang paling penting tidak membahayakan operator yang melakukannya serta telur yang fertil yang ada dalam mesin tetas tersebut. Cara menggunakan zat kimia tersebut adalah sebagai berikut : mesin tetas dan peralatannya atau telur yang telah dimasukkan dalam mesin tetas, campuran KMnO4 ( 3 gram ) dicampur dengan 3 sendok makan yang ditempatkan pada bekas gelas air mineral, kemudian ditutup selama 15 menit, kemudian dibuka (sudah bisa digunakan). Dalam menjalankan fumigasi sebaiknya setelah proses penetasan berakhir.
M. KAPAN SEBAIKNYA PENGAMBILAN ANAK UNGGAS HASIL TETASAN?
Keberhasilan dalam proses penetasan tolok ukurnya adalah tingkat fertilitas dan daya tetas. Semakin tinggi tingkat fertilitas telur yang tetaskan (tentunya faktor mesin tetas dan operatornya normal) maka daya tetasnya akan tinggi pula sebaliknya. Dengan demikian kapan dan bagaimananya hasil tetasannya diambil dari mesin tetas. Pengambilan hasil tetasannya diambil dengan rumus adalah sebagai berikut : MASA INKUBASI TELUR + 24 jam. Jadi sebagai misal antuk puyuh karena ber masa inkubasi 18 hari ditambah 24 jam = hari ke 19.
Bentuk dan Warna Telur Menentukan Tingkat Daya Tetas
Ukuran keberhasilan dalam menetaskan telur unggas adalah banyaknya telur-telur yang menetas dari telur yang fertil dari jumlah telur yang ditetaskan. Prosentase daya tetas ditentukan oleh 3 faktor, yaitu Operator (orang yang mengoperasikan mesin tetas), Telur yang akan ditetaskan, dan Mesin tetas yang digunakan dalam proses penetasan. Telur yang akan ditetaskan syarat utamanya adalah telur tersebut harus fertil (terbuahi), melihat fertil tidaknya telur dapat dilihat dengan alat Candler. Untuk menghasilkan telur-telur yang memenuhi syarat untuk ditetaskan maka telur-telur tersebut harus diseleksi (atau lebih dikenal dengan seleksi telur tetas). Salah satu penyeleksian telur tetas yang penting antara lain adalah bentuk dan warna telur tetas. Sebutir telur dapat dikeluarkan melalui saluran telur (oviduct) memakan waktu sekitar 25,1 jam ( sehari lebih 1 jam). Jika dalam proses peneluran tersebut terganggu (karena nutrisi, genetik, lingkungan kandang sekitar baik secara internal maupun ekternal) maka akan menghasilkan bentuk telur yang bermacam-macam.
Dikenal ada 3 bentuk telur unggas yaitu : bulat, lonjong dan oval telur. Dari ketiga bentuk tersebut yang paling baik untuk ditetaskan adalah yang mempunyai bentuk oval karena akan menghasilkan daya tetas yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan bentuk-bentuk yang lain.
Nilai prosentase untuk menghitung bentuk telur tersebut dinamakan Indek Telur. Nilai bentuk telur bulat, lonjong atau oval dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
INDEK TELUR / IT (EGG INDEX) = sumbu pendek dibagi sumbu panjang telur dikalikan 100%
- Jika nilai indek telur (IT) = 72% – 74%, maka bentuk telur tersebut oval
- Jika nilai indek telur (IT) lebih dari 72% – 74%, maka bentuk telur tersebut bulat
- Jika nilai indek telur (IT) lebih kecil dari 72% – 74%,maka bentuk telur tersebut lonjong
Sedangkan Warna telur yang gelap lebih memungkinkan mendapatkan daya tetas yang relatif lebih besar bila dibandingkan dengan telur yang berwarna cerah (penilaian warna telur ini hanya pada jenis telur yg berasal dari bangsa unggas yang sama, misal : telur itik harus dibandingkan dg telur itik, tidak boleh dibandingkan dengan telur puyuh).
Notes: Tulisan ini kami sadur dari hasil penelitian Dr. Ir. Edhy Sudjarwo, MS (Unibraw Malang)
Semoga membawa manfaat bagi peneliti dan para peternak di negeri ini...
Tags:
Jangan Lupakan Candling
Seringkali para peternak menanyakan kepada penulis, mengapa sudah lewat 21 hari telur ayam yang mereka tetaskan belum menetas. Kami selalu menjawab, silahkan pecahkan beberapa telur untuk menganalisanya. Setelah para peternak mengikuti instruksi kami, keterangan yang kami peroleh dari hasil pengamatan keadaan telur-telur tetas tersebut adalah ada telur yang masih utus kuningnya, ada telur dengan guratan darah dalam kuningnya, ada telur yang sudah berembrio tapi mati, dsb.
Mengapa kegagalan-kegalan tersebut baru kita ketahui setelah 3 minggu? bukankah itu sudah membuang waktu yang lama. Hal tersebut tidak akan terjadi jika para peternak disiplin dalam melakukan peneropongan telur (candling) sedini mungkin.
Untuk mengetahui telur tersebut hidup (fertil) atau mati (infertil) maka telur-telur tetas yang dimasukkan dalam mesin (yang ditetaskan) harus dilihat/diperiksa dengan alat yang disebut CANDLER (aktifitas memeriksanya disebut CANDLING). Alat candler bisa dilakukan dan atau dibuat dengan cara sederhana, antara lain :
1. Menggunakan kertas yang digulung, kemudian telur ditempatkan ujung dari kertas yang digulung tadi dengan menghadap sumber lampu (dop atau senter).
2. Telur-telur di ayun-ayunkan, jika berbunyi telur tersebut kopyor sehingga tak bisa ditetaskan karena Chalaza sebagai pertautan antara Albumen dan Yolk sudah putus, jenis telur ini tak bisa menetas.
3. Dengan kardus atau bekas toples kue di lubang sebesar telur yang diperiksa dan dibawahnya diberi lampu sehingga akan nampak ( fertil jika nampak pembuluh darah yang menyebar, kuning jika telur konsumsi dan hitam jika embryo mati/dead embryo). Secara jelas, hasil peneropongan telur (candling) dari hari ke hari selama masa penetasan dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

Kapan waktu yang paling tepat secara ekonomis untuk melalukan candling ? Jawabannya : hari ke-4 setelah masa kritis I, karena jika ditemukan telur yang kosong (infertil) maka telur-telur tersebut masih layak dikonsumsi dan bisa dijual, tetapi jika pemeriksaannnya dilakukan melewati hari ke-7, maka sudah kopyor sehingga tak bisa dijual sebagai telur konsumsi. Setelah peneropongan pada hari ke-5, lakukan lagi pada hari ke-14, jika ditemukan telur dengan embrio yang mati atau tidak berkembang maka telur-telur tersebut bisa dikeluarkan dari mesin tetas.
Jangan malas untuk melakukan candling.....
Seleksi Telur Untuk Penetasan
Secara garis besar proses penetasan telur dengan menggunakan inkubator dipengaruhi oleh 3 faktor yaitu : telur tetas yang akan ditetaskan, mesin tetas yang akan digunakan dan orang yang menjalankan proses penetasan tersebut (operator). Jika diprosentasekan dari ke 3 faktor tersebut adalah sebagai berikut : 33,3% dipengaruhi oleh telur tetas, 33,3 dipengaruhi oleh mesin tetas dan 33,3 ditentukan oleh operator.
Agar telur tetas memenuhi standar daya tetas yang optimal maka telur yang akan ditetaskan harus diseleksi, adapun hal-hal yang perlu diseleksi adalah sebagai berikut :
Bentuk telur (harus oval, lebih tepat dihitung indek telur= sumbu pendek dibagi sumbu panjang telur dikalikan 100 %, jika 72 – 74 % berarti telur tsb oval).
Fertilitas telur. Telur harus dihasilkan dari sejumlah betina dan pejantan yang seimbang (sex ratio, tiap bangsa unggas berbeda). Untuk mengetahui fertilitas telur sebelum ditetaskan adalah dengan cara mengamati bentuk titik cahaya (putih) didalam kuning telur dengan cara diteropong (candling).
Berat telur (bangsa unggas berbeda), Bobot telur pada bangsa unggas dapat dirumuskan sebagai berikut : semakin kecil badannya maka semakin kecil bobot telurnya (misal : telur puyuh = 10-12 gram, merpati = 22 gram, ayam kampung 40-45 gram, itik = 60 – 65 gram),
Keutuhan telur (usahakan telur tidak retak),
Lama simpan yang paling baik adalah tidak lebih dari 7 hari. Dapat pula kita kaitkan dengan banyaknya telur yang dihasilkan oleh unggas dalam satu periode bertelur, beberapa unggas ada yang bertelur sampai 10 butir dalam satu periode maka masa simpan telurnya masih toleransi sampai dengan 10 hari.
Kebersihan telur (agar pori-pori kulit telur tak tertutup dengan kotoran shg respirasi embrio dapat berjalan dengan lancar),
Warna telur yang gelap lebih memungkinkan mendapatkan daya tetas yang relatif lebih besar bila dibandingkan dg yang cerah (penilaian item ini hanya pada jenis telur yg berasal dari bangsa unggas yang sama, misalnya: telur itik harus dibandingkan dg telur itik, tetapi tidak boleh dibandingkan dengan telur puyuh).
Tags:
Suhu dan Kelembaban dalam Penetasan Telur
Dibawah ini kami berikan data suhu dan kelembaban relatif untuk penetasan atau inkubasi berbagai telur unggas. Nilai skala suhu dan kelembaban yang tertera adalah nilai pembulatan sehingga mudah dalam pembacaannya jika menggunakan thermometer dan higrometer digital maupun analog.
| Jenis Telur | Periode Inkubasi | Suhu (oC) | Stop Pemutaran Telur | Kelembaban (%) |
|---|---|---|---|---|
| Ayam | 21 hari | 38-39 | hari ke-18 | 65-70 |
| Kalkun | 28 hari | 38-39 | hari ke-25 | 65-75 |
| Itik | 28 hari | 38-39 | hari ke-25 | 65-75 |
| Bebek Menthok | 37 hari | 38-39 | hari ke-34 | 65-75 |
| Angsa | 28-30 hari | 38-39 | hari ke-25 | 65-75 |
| Love Bird | 23 hari | 37-38 | hari ke-20 | 65-70 |
| Pheasant | 24-28 hari | 38-39 | hari ke-22 | 65-75 |
| Merak | 28-30 hari | 38-39 | hari ke-25 | 65-75 |
| Puyuh (Bobwhite) | 23-24 hari | 37-38 | hari ke-20 | 60-70 |
| Puyuh (Coturnix) | 17 hari | 37-38 | hari ke-14 | 60-70 |
| Kenari | 14 hari | 37 | hari ke-11 | 60-70 |
| Merpati | 17 hari | 37-39 | hari ke-14 | 60-70 |
Memahami Termometer Bola Kering dan Termometer Bola Basah
Dry Bulb temperature (Temperatur bola kering)
Yaitu skala suhu yang ditunjukkan oleh thermometer bulb biasa dengan bulb dalam keadaan kering. Satuan untuk suhu ini biasanya dalam celcius atau fahrenheit. Seperti yang sudah diketahui, bahwa thermometer menggunakan prinsip dasar pemuaian zat cair (alkohol atau air raksa) yang terdapat didalam thermometer. Jika kita ingin mengukur suhu udara dengan thermometer biasa maka terjadi perpindahan kalor dari udara ke bulb (kantong zat cair yang terdapat di ujung termometer). Karena mendapatkan kalor maka zat cair yang ada di dalam thermometer mengalami pemuaian sehingga tinggi air raksa tersebut naik. Kenaikan ketinggian cairan ini yang di konversikan dengan satuan suhu (celcius, Fahrenheit, dll).
Wet Bulb Temperature (Temperatur bola basah)
Yaitu suhu bola basah. Sesuai dengan namanya “wet bulb”, suhu ini diukur dengan menggunakan thermometer yang bulbnya dilapisi dengan kain yang telah basah kemudian dialiri udara yang ingin diukur suhunya. Perpindahan kalor terjadi dari udara ke kain basah tersebut. Kalor dari udara akan digunakan untuk menguapkan air pada kain basah tersebut, setelah itu baru digunakan untuk memuaikan cairan yang ada dalam thermometer.
Nilai suhu yang terukur dari thermometer suhu bola basah ini adalah bagian dari nilai kelembaban. Nilai Selisih suhu bola kering dengan suhu bola basah serta suhu bola kering jika dikonversikan akan mendaatkan nilai kelembaban relatif (dalam satuan %). Nilai kelembaban relatif ini terbaca pada alat pengukur kelembaban yang kita kenal dengan nama Higrometer.
Penetasan Telur Burung
Pelaksanaan penetasan telur burung dengan menggunakan mesin penetas PUI-30, Khusus untuk burung walet jika jumlah telur yang ditetaskan banyak disarankan memakai mesin PUI-100.
- Burung Merpati
- Burung Perkutut
- Burung Walet
- Burung Dekukur
- Dan burung yang sejenis
Teknis pelaksanaan penetasan dari hari ke hari adalah sebagai berikut :
HARI KE-1
Setelah sumber pemanas dihidupkan, pintu dan lubang ventilasi dari mesin penetas ditutup rapat, jangan sekali-kali mencoba membukanya dan suhu tetap dipertahankan 37-38 oC. Aturan ini berlaku dalam jangka waktu 48 jam atau selama dua hari berturut-turut sampai suhu ruang mesin tetas benar-benar sudah stabil. Isi nampan/baki tempat air dengan air bersih untuk menciptakan kelembaban dalam ruangan mesin penetas, wadah air selalu dikontrol setiap saat mulai dari hari ke-1 sampai hari ke-15
HARI KE-2
Mesin tetas dalam kondisi tertutup rapat, sementara suhu ruangan sama seperti pada hari ke-1
HARI KE-3
Mulai dilakukan pemutaran telur. Kegiatan pemutaran telur dilakukan tiga kali atau dua kali sehari, misalnya pagi, siang, dan malam, atau pagi dan sore saja. Pemutaran telur dilakukan secara rutin setiap hari mulai hari ke-tiga sampai hari ke-11 dengan rentang waktu yang sama.
HARI KE-4
Kegiatan yang dilakukan meliputi pemutaran telur, pembukaan lubang ventilasi. Suhu mesin penetas 37-38 oC. Nampan/baki tempat air perlu diperiksa, apakah air yang ada didalamnya masih ada atau sudah habis.
HARI KE-5
Kegiatan sama seperti hari ke-4.
HARI KE-6
Kegiatan sama seperti pada hari ke-5
HARI KE-7
Jangan lupa pemutaran telur tetap dilakukan 3 atau 2 kali sehari sampai hari ke-11. Untuk suhu tetap seperti pada hari sebelumnya. Mulai dilakukan peneropongan telur (sebaiknya dilakukan pada malam hari, agar hasil pengamatan keadaan di dalam telur dapat terlihat dengan jelas). Melalui peneropongan tersebut dapat diketahui telur yang fertile (telur yang terbuai oleh burung jantan) dan telur yang infertile (telur yang kosong). Nampan/baki tempat air perlu diperiksa.
Telur yang fertile dimasukkan kembali ke rak didalam mesin penetas, sedangkan telur yang kosong/infertile atau yang embrionya mati dikeluarkan. Suhu mesin penetas tetap dipertahankan 37-38 oC, dan lubang ventilasi dibuka seluruhnya.
HARI KE-8
Kegiatan masih pada pemutaran telur,seperti yang dilakukan pada hari-hari sebelumnya. Lubang ventilasi tetap dibuka seluruhnya. Suhu ruang mesin penetas tetap 37-38 oC.
HARI KE-9
Kegiatan sama dengan hari ke-8
HARI KE-10
Kegiatan sama dengan hari ke-9
HARI KE-11
Tidak boleh lagi melakukan pemutaran telur, sampai telur menetas. Memasuki hari ke-11 sampai hari ke-14 telur mengalami masa kritis yang pada saat tersebut embrio mengalami perubahan yang sangat cepat untuk menjadi anak burung (piyek) yang sempurna sehingga sangat peka terhadap perubahan temperature di dalam ruang penetasan. Suhu ruangan mesin penetas 37-38 oC.
HARI KE-12
Kegiatan sama dengan hari ke-11
HARI KE-13
Kegiatan sama dengan hari ke-12
HARI KE-14
Sebagian telur mulai retak. Pada saat seperti ini ruangan mesin penetas membutuhkan kelembaban yang lebih tinggi daripada hari-hari sebelumnya. Untuk mencapai suasana tersebut, kita dapat menambahkan volume air pada wadah/tempat air. Suhu masih 37-38 oC dan lubang ventilasi tetap terbuka.
HARI KE-15
Seluruh telur menetas.
Untuk melihat lamanya penetasan, suhu dan kelembaban dalam penetasan silahkan lihat DISINI
Membuat Kartu Kontrol Penetasan
Untuk mendapatkan hasil penetasan yang optimal perlu kiranya kita membuat kartu kontrol penetasan. Tujuannya adalah sebagai pengingat kegiatan perlakuan terhadap telur-telur yang ditetaskan selama kurun waktu penetasan, mulai dari hari pertama penetasan sampai dengan telur menetas. Lebih jelasnya lihat tabel kartu kontrol penetasan dibawah ini.
Data-data yang perlu dicatat adalah :
- Tanggal mulai penetasan sampai dengan telur menetas
- Hari ke-1 sampai dengan hari ke-n, untuk telur ayam dari hari ke-1 s.d hari ke-21, untuk telur puyuh mulai hari ke-1 s.d hari ke-17, untuk telur itik mulai hari ke-1 s.d hari ke-28)
- Tanda kegiatan pemutaran telur setiap hari, pemutaran ke-1 (berilah tanda misalnya A), pemutaran ke-2 (berilah tanda misalnya B), pemutaran ke-3 (tanda kembali seperti pemutaran ke-1), fungsi pemberian tanda pada kartu kontrol adalah agar kita tidak lupa memutar telur dan mengetahui posisi telur.
- Temperatur, fungsinya untuk mengingatkan besar suhu dalam ruang mesin tetas, sebab selama kurun waktu penetasan terjadi 2 s.d 3 kali perubahan suhu.
Panen DOC Seminggu Sekali | Usaha Penetasan
Untuk dapat panen anak ayam (DOC) seminggu sekali diperlukan 3 mesin tetas dengan kapasitas disesuaikan dengan perencanaan masing-masing peternak. Untuk peternak skala kecil dan menengah dapat dicoba dengan mesin tetas kapasitas 100 – 500 telur. Pada ulasan kali ini, anggap kita menggunakan mesin penetas dengan kapasitas 100 telur. Jumlah mesin tetas yang digunakan adalah 3 buah, lama periode penetasan telur ayam adalah 21 hari.
Analisis Keuntungan
Untuk menghitung keuntungan usaha penetasan telur ayam selama 1 bulan adalah sebagai berikut :
Modal awal :
- 3 buah mesin tetas kapasitas 100 telur = 3 x Rp. 380.000 = Rp. 1.140.000
Pengeluaran :
- 400 telur ayam kampung = 400 x Rp. 2.000 = Rp. 800.000
- Biaya listrik = 20 watt x 3 = Rp. 25.000
- Jumlah = Rp. 825.000
Pemasukan :
- Panen DOC = 85 ekor x 4 periode x Rp. 5.000 = Rp. 1.700.000
Keuntungan :
Keuntungan = pemasukan – pengeluaran = Rp. 1.700.000 – Rp. 825.000 = Rp.875.000
Catatan :
Untuk meningkatkan keuntungan, yang dapat dilakukan oleh peternak adalah sebagai berikut :
- Mempunyai indukan ayam sendiri untuk memenuhi kebutuhan telur tetas.
- Memperbesar kapasitas mesin tetas.
- Menambah jumlah mesin tetas, sehingga rentang masa panen DOC tidak lagi seminggu sekali tetapi dapat panen 5 hari sekali, atau 3 hari sekali, bahkan jika manajemennnya sudah baik peternak dapat panen DOC setiap hari dengan melipatgandakan jumlah mesin tetas yang dipakai.
Tags :
Penyebab Kematian Embrio Pada Umur Dua Minggu Dalam Mesin Tetas
Berikut ini adalah beberapa penyebab kematian embrio didalam telur pada umur dua minggu masa penetasan dengan menggunakan mesin penetas :
1. Induk terserang penyakit. Beberapa penyakit pada induk memang dapat diturunkan kepada anak ayam. Karena itu, pelaksanaan biosecurity termasuk vaksinasi harus dilakukan secara lengkap terhadap induk. Memiliki indukan unggas sendiri itu lebih baik daripada membeli telur di tempat lain yang tidak diketahui kualitas indukannya, karena kontrol penyakit dapat dilakukan lebih selektif. Untuk mengindari penularan atau penurunan penyakit bawaan dari induk maka anda bisa melakukan fumigasi terhadap ruang inkubasi dengan desinfektan yang kuat seperti campuran formalin dan kalium permanganat atau jenis desinfektan kuat lainnya.
2. Formulasi pakan induk kurang benar. Kematian embrio didalam telur dapat terjadi karena pakan induk mengalami defisiensi zat gizi seperti vitamin dan mineral, sehingga metabolisme dan perkembangan embrio menjadi tidak optimal. Untuk mengatasi hal ini, pada ransum induk perlu ditambahkan suplemen vitamin dan mineral.
3. Sebelum diinkubasi telur tidak diangin-anginkan. Telur adalah benda hidup yang mengalami metabolisme dan mengeluarkan panas. Pada saat pengangkutan dan penjualan di pasar, telur mengalami kenaikan suhu karena pengemasan, penumpukan dan penjemuran. Saat pengangkutan dan penjemuran, suhu dapat mencapai 40°C. Karena itu, sebelum di masukkan ke dalam mesin tetas, telur perlu diangin-anginkan terlebih dahulu sekitar satu jam agar tidak terjadi perubahan suhu yang signifikan. Perubahan suhu yang signifikan dapat menimbulkan kematian embrio pada dua minggu masa inkubasi di dalam mesin tetas.
4. Suhu didalam mesin tetas terlalu tinggi atau terlalu rendah. Suhu di ruang inkubasi tidak boleh lebih panas atau lebih dingin 2°C dari kisaran suhu standar. Suhu standar untuk penetasan berkisar antara 36°C-39°C. Kalau terjadi penurunan suhu terlalu lama biasanya telur akan menetas lebih lambat dari 21 hari dan kalau terjadi kenaikan suhu melebihi dari suhu normal maka embrio akan mengalami dehidrasi dan akan mati.
5. Padamnya sumber pemanas. Padamnya sumber pemanas dapat menurunkan suhu di ruang inkubasi. Jika suhu di mesin tetas mencapai 27°C selama 1-2 jam, maka embrio akan segera mati. Terlebih jika umur embrio masih sangat muda. Namun, jika umur inkubasi telah mencapai 18 hari, dampak padamnya sumber pemanas tidak akan separah dampak sewaktu masih muda. Hal ini disebabkan metabolisme masing-masing embrio telah mampu membentuk panas kolektif secara konveksi. Namun, jumlah kematian embrio akan semakin bertambah jika sumber panas padam berkali-kali di dalam satu siklus penetasan. Karena itu, cadangan sumber panas menjadi sangat penting, terlebih pada lokasi usaha penetaasan yang sering terjadi pemadaman listrik. Salah satu usaha untuk meminimalkan resiko jika terjadi pemadaman listrik adalah dengan menggunakan mesin penetas yang memiliki elemen pemanas darurat saat terjadi pemadaman listrik. Lihat spesifikasi mesin tetas PUI-100.
6. Telur didalam mesin tetas tidak diputar. Telur yang tidak diputar atau dibalik karena kemalasan, kelalaian atau matinya sumber listrik jelas akan mempengaruhi posisi embrio. Telur yang dibalik atau diputarnya tidak beraturan dapat menyebabkan pelekatan pada satu sisi. Akibatya, embrio tidak akan dapat tumbuh normal dan akhirnya mati.
7. Kandungan CO2 yang terlalu tinggi. Aktifnya metabolisme embrio menyebabkan akumulasi CO2 di dalam ruang penetasan. Selain dapat menyebabkan kematian embrio, jumlah CO2 yang terlalu banyak dapat menyebabkan DOC yang berhasil menetas menjadi lemas dan lemah. Ventilasi atau aliran udara yang tidak baik menjadi faktor utama terjadinya penumpukan zat asam arang ini. Pada mesin tetas sederhana, ventilasi yang buruk bisa disebabkan lubang ventilasi yang kotor atau jumlahnya yang kurang. Karena itu, pelaku penetasan harus rajin membersihkan ventilasi.
8. Telur disimpan pada suhu di atas 30°C. Telur yang berada pada ruangan bersuhu di atas 30°C, bagian putih telurnya akan segera encer sehingga tali pengikat kuning telur mudah putus. Apalagi, jika telur akan diangkut melalui medan yang berat (jalan berliku-liku, jalan belum aspal atau tidak mulus, ) atau mengalami perlakuan kasar, maka tali pengikat tersebut rentan putus akibat guncangan atau perlakuan kasar tersebut.
9. Telur berumur lebih dari 5 hari. Putih telur mudah encer jika setelah berumur 5 hari telur belum juga dimasukkan ke dalam mesin tetas. Kalau anda membeli telur dari tempat lain maka perlu untuk menanyakan berapa umur telur tetas tersebut. Kalau anda enggan untuk menanyakan maka cukup member toleransi 2-3 hari pada telur tersebut, artinya telur tersebut telah berapa pada peternak/pengepul telur selama 3 hari. Sehingga maksimal waktu anda menyimpan telur tersebut di rumah anda adalah 2-3 hari.
Sumber Literatur : www. sentralternak.com dan buku kiat sukses menataskan telur ayam.
Tags :
Cara Menetaskan Telur Puyuh Dengan Mesin Tetas
Hari ke-1
Perlakuan penetasan telur puyuh pada hari 1:
- Suhu mesin tetas dijaga stabil pada kisaran 98o - 100o F
- Posisi telur datar jangan dibolak-balik
- Lubang ventilasi ditutup rapat
- Isi air pada bak/nampan tempat air
Hari ke-2
Perlakuan sama seperti hari ke-1
Hari ke-3
Perlakuan sama seperti hari ke-2
Hari ke-4
Perlakuan penetasan telur puyuh pada hari 4:
- Suhu mesin tetas dijaga stabil pada kisaran 98o - 100o F
- Posisi telur diputar (jika mesin tetas menggunakan sistem rak putar atau di balik manual jika mesin tetas menggunakan rak biasa) paling sedikit sehari 2 kali pagi dan sore.
- Cek ketersediaan air di bak/nampan tempat air
- Lubang ventilasi dibuka 1/2 bagian
Hari ke-5
Perlakuan sama seperti hari ke-4
- Lakukan Peneropongan telur (Candling) dengan mengambil sampel 10 telur untuk mengetahui dan memastikan bahwa telur-telur yang kita tetaskan ada benihnya (fertile), jika dari 3-5 telur sudah dapat dipastikan fertile maka Insya Allah telur-telur lainnya mayoritas juga demikian.
- Lubang ventilasi dibuka seluruhnya
Hari ke-6
Perlakuan sama seperti hari ke-5
- Cek ketersediaan air di bak/nampan tempat air
Hari ke-7
Perlakuan sama seperti hari ke-6
Hari ke-8
Perlakuan sama seperti hari ke-7
Hari ke-9
Perlakuan sama seperti hari ke-8
- Cek ketersediaan air di bak/nampan tempat air
Hari ke-10
Perlakuan sama seperti hari ke-9
Hari ke-11
Perlakuan sama seperti hari ke-10
Hari ke-12
Perlakuan sama seperti hari ke-11
Hari ke-13
Perlakuan sama seperti hari ke-12
Hari ke-14
- Cek ketersediaan air di bak/nampan tempat air
Perlakuan sama seperti hari ke-13
Hari ke-15
Perlakuan sama seperti hari ke-14
Hari ke-16
Perlakuan penetasan telur puyuh pada hari 16:
- Suhu mesin tetas dijaga stabil pada kisaran 98o - 100o F
- Posisi telur tidak boleh diputar lagi (dibiarkan sampai proses penetasan selesai).
Hari ke-17
Telur mulai menetas
Hari ke-18
Menetas sempurna
Harap Diperhatikan :
- Suhu mesin 105o F selama 30 menit dapat mematikan embrio.
- Suhu mesin 90o F dalam waktu 3 sampai 4 jam akan memeperlambat perkembangan embrio
- Sebaiknya telur yang ditetaskan tidak lebih dari 10 hari dalam penyimpanan.
Untuk menetaskan telur puyuh Anda dapat menggunakan mesin penetas telur PUI-100
Tags :
Penyimpanan Telur Tetas
Hal yang terbaik untuk memperlakukan telur tetas adalah langsung memasukkannya kedalam incubator. Tetapi tentunya cara ini tidaklah mudah dan praktis untuk dilakukan. Hal yang masih baik dilakukan adalah mengumpulkan telur dan menyimpannya untuk hanya beberapa hari saja dan disimpan pada keadaan yang sejuk dan lembab. Keadaan yang sempurna adalah 60oF dan kelembaban udara 75 %. Tetapi tidak dalam lemari es atau tempat lain yang mempunyai suhu dibawah 40oF karena akan menurunkan daya tetasnya dan biasanya dalam lemari es kelembaban udaranya adalah dibawah 50%. Dikatakan perlu suhu yang cukup rendah tadi disebabkan karena suhu yang rendah memperlambat perkembangan embrio sampai telur telur siap untuk dimasukkan kedalam ruang incubator, sedangkan kelembaban yang tinggi akan mengurangi kelembaban didalam telur karena penguapan. Untuk akurasi pengukuran maka diperlukan peralatan Termometer (untuk suhu) dan Hygrometer (untuk kelembaban udara).
Setelah telur telur dirasa cukup untuk jumlahnya sesuai kemampuan incubator atau keinginan kita maka telur harus segera dimasukkan kedalam incubator. Kemampuan daya tetas telur fertile masih baik jika penyimpanan sekitar 7 hari dan maksimum 10 hari. Selebihnya maka daya tetas telur akan menurun dan setelah 3 minggu maka telur tidak ada yang bisa menetas atau daya tetasnya 0%.
Syarat lain yang harus dilakukan selain kondisi suhu dan kelembaban pada saat penyimpanan sementara sebelum dimasukkan kedalam incubator adalah telur telur tersebut setelah 3 atau 4 hari disimpan harus diputar pagi dan sore seperti gambar dibawah. Hal ini penting untuk mencegah kuning telur didalam telur tersebut tidak sampai menyentuh kulit telur dan merusak embrionya. Peletakannyapun sebaiknya dalam tray telor (biasanya isi 30 setiap tray) yang dapat dibeli mudah di poultry shop dengan harga sekitar 3.000 perbuahnya, dengan ujung telur yang lebih tajam dibagian bawah kemudian dimiringkan sekitar 30 sampai 40 derajat. Selanjutnya rubah kedudukan telur tersebut pada pagi dan sore hari dengan kemiringan yang berubah ubah untuk tiap waktunya.
Telur telur tersebut selanjutnya secara perlahan lahan harus dihangatkan dahulu sebelum dimasukkan kedalam incubator. Perubahan temperatur yang draktis atau mendadak akan menyebabkan terjadi pengembunan secara cepat didalam telur dan hal ini akan berakibat buruk untuk daya tetas atau kerusakan struktur kulit telurnya.
Prosedur Penetasan Telur
Semua Incubator yang digunakan harus diletakkan dalam satu ruang khusus yang terlindungi dari perubahan suhu dan kelembaban udara secara drastis, ruangan juga harus dilengkapi dengan ventilasi udara yang cukup. Hal tersebut dimaksudkan untuk pengontrolan yang lebih baik terhadap suhu dan kelembaban udara di dalam ruang mesin tetas. Kebersihan di dalam ruangan, mesin incubator baik luar dan dalamnya termasuk sanitasinya harus diperhatikan dengan seksama. Mesin incubator harus dicoba dahulu setidaknya 1 – 2 jam dan di kontrol suhu dan kelembabannya sebelum digunakan. Hal ini untuk melihat apakan semua system telah berjalan
Temperatur
Standart untuk suhu dalam incubator “penetasan” tipe forced air adalah
________________________________________
Keterangan Ayam
Periode Incubator (Hari) 21
Temperatur
Humidity 65-70
Tidak ada pemutaran telur Hari ke 18th
Buka Vents tambah ¼ hari ke 10th
Buka Vents (jika diperlukan) hari ke 18th
________________________________________
Sedangkan untuk tipe still air, posisi termometer adalah sejajar atau rata dengan tinggi bagian atas telur atau sekitar 5 cm dari dasar telur. Termometer haruslah tidak diletakkan diatas telur atau diluar bidang penetasan tetapi bersebelahan dengannya. Selain itu, mesin incubator juga harus tertutup rapat untuk menghindari hilang panas atau kelembaban udaranya.
Fluktuasi temperatur sebanyak 1 derajat atau kurang tidak menjadi masalah tetapi pengontrolan Temperature secara berkala amat diperlukan untuk menjaga agar suhu tidak ketinggian atau kerendahan dari standart tersebut. Sebagai catatan : suhu sekitar
Kelembaban Udara (Humidity)
Pengontrolan kelembaban udara harus dilakukan dengan teliti. Hal ini diperlukan untuk menjaga hilangnya air dari dalam telur secara berlebihan. Pengukuran dapat dilakukan dengan hygrometer atau psychrometer. Psychrometer atau termometer bola basah (wet bulb) menunjukkan derajat kelembaban udara dan dapat dibaca berdasarkan tabel dibawah ini:
___________________________________________________________________
Pembacaan temperatur system bola basah (wet Bulb ) untuk incubator
Temperatur,
Rel. Humidity 99 100 101 102
45% 80.5 81.3 82.2 83.0
50% 82.5 83.3 84.2 85.0
55% 84.5 85.3 86.2 87.0
60% 86.5 87.3 88.2 89.0
65% 88.0 89.0 90.0 91.0
70% 89.7 90.7 91.7 92.7
___________________________________________________________________
Kelembaban relatif (relatif humidity) untuk mesin incubator “penetas” atau periode 18 hari pertama harus dijaga pada 50 – 55 % atau
Pada saat 3 hari menjelang penetasan dapat dikatakan kita harus lepas tangan “hand-off” karena pada saat ini tidak diperlukan campur tangan manusia sama sekali selain menunggu proses penetasan berjalan sampai selesai dengan sendirinya. Incubator tidak boleh dibuka karena dapat menyebabkan kehilangan kelembaban udara yang amat diperlukan dalam penetasan. Kehilangan kelembaban dapat mencegah keringnya membran pada kulit telur pada saat penetasan (hatching).
Kelembaban yang rendah menyebabkan anak ayam sulit memecah kulit telur karena lapisannya menjadi keras dan berakibat anak ayam melekat / lengket di selaput bagian dalam telur dan mati. Akan tetapi kelembaban yang terlalu tinggi dapat menyebabkan anak ayam didalam telur juga sulit untuk memecah kulit telur atau kalaupun kulit telur dapat dipecahkan maka anak ayam tetap berada didalam telur dan dapat mati tenggelam dalam cairan dalam telur itu sendiri.
Pada incubator penetas “hatching”, kelembaban udara bisa diatur dengan memberikan nampan berisi air dan bila perlu ditambahkan busa / sponse untuk meningkatkan kelembaban udara. Sedangkan pada tipe still-air maka menaikkan kelembaban dengan cara menambah nampan air dibawah tempat penetasan atau pada prinsipnya, menaikkan kelembaban dapat dicapai dengan menambah penampang permukaan airnya.
Adapun cara yang sempurna untuk menentukan kelembaban udara adalah dengan memperhatikan ukuran kantong udara didalam telur bagian atas atau bagian tumpulnya seperti gambar dibawah ini dengan menggunakan teropong telur. Kelembaban dapat diatur setelah peneropongan telur pada hari ke 7, 14, dan 18 pada masa penetasan.
Ventilasi
Ventilasi yang cukup adalah penting untuk diperhatikan mengingat didalam telur ada embrio yang juga bernafas dalam perkembangannya dan memerlukan O2 dan membuang CO2. Dalam operasi mesin penetas, lebar lubang bukaan ventilasi harus diatur agar cukup ada sirkulasi udara dan dengan memperhatikan penurunan tingkat kelembaban udaranya.
Pada incubator tipe still-air, buatan Cemani maka bukaan ventilasi ada di bagian atasnya yang dapat diatur untuk mengeluarkan udara bersamaan degan pergerakan udara panas yang ada didalamnya sedangkan sirkulasi udara masuk sudah cukup dari lubang lubang yang ada dibagian bawah dan samping incubator tersebut.
Pada incubator jenis forced-air incubator, jika terjadi lampu mati atau PLN off maka ventilasi harus dibuka lebih lebar dan bila perlu sesekali di buka pintunya agar terjadi pertukaran udara segar dan tetap diusahakan suhu ruangan berada pada kisaran 75oF atau lebih. Sedangkan pada incubator tipe still-air ventilasi dibiarkan terbuka ¼ atau ½ (tidak berubah atau lebih ditutup) agar panas dan kelembaban tidak terlalu terpengaruh.
Pemutaran Telur
Pada incubator tipe forced-air seperti kami miliki, telur telur diletakkan pada tray tray pada tempatnya dengan unjung tajam telur menghadap kebawah. Pemutaran dilakukan secara manual dengan menarik dan menekan tuas untuk memindahkan posisi tray didalam mesin incubator agar terjadi sudut 30 – 45 derajat untuk tiap tiap waktu yang ditetapkan secara berkesinambungan dan bergantian sudutnya.
Pemutaran telur sedikitnya adalah 3 kali sehari atau 5 kali sudah lebih dari baik untuk mencegahembrio telur melekat pada selaput membran bagian dalam telur. Oleh sebab itu jangan pernah membiarkan telur tetas tidak dibalik atau diputar posisinya dalam 1 hari pada masa penetasan telur. Pemutaran telur tersebut dilakukan dalam 18 hari pertama penetasan. Tetapi JANGAN membalik telur sama sekali pada 3 hari terakhir menjelang telur menetas. Pada saat itu telur tidak boleh diusik karena embrio dalam telur atau anak ayam yang akan menetas tersebut sedang bergerak pada posisi penetasannya.
Pada incubator tipe still-air, pemutaran dilakukan secara manual dengan ketentuan seperti diatas. Biasanya untuk mempermudah dalam mengetahui posisi terakhir telur pada saat di putar maka telur tetas diberi tanda “O” pada satu sisis dan “X”. pada sisi lainnya,. Selanjutnya putar telur menurut waktu dan tanda secara bergantian dan secara berhati hati terutama 1 minggu pertama dalam incubator.
Ada baiknya juga menuliskan tanggal pada telur menggunakan pinsil untuk menandai beberapa hal seperti: dari kandang mana, jenis ayam, kapan bertelur, kapan dimasukkan incubator. Hal ini untuk mengetahui kapan telur nantinya akan menetas dan menentukan waktu peneropongan untuk penentuan fertilitas, kantong udara dan penentuan pemindahan telur sebelum menetas (- 3 hari).
Biasanya anak ayam (DOC) akan mulai menetas pada usia penetasan ke 20 dan 21 hari pada keadaan mesin penetasan yang bekerja normal dan sesuai prosedur. Anak ayam yang menetas setelah waktu itu atau setelah hari ke 22 biasanya tidak sehat atau lemah.
Setelah menetas, anak ayam dibiarkan beberapa jam didalam mesin incubator sampai kering sempurna. Hal ini dapat dilihat dengan telah lepasnya bulu bulu halus yang menyertai anak ayam waktu menetas dan berganti dengan bulu lembut yang menutupi sempurna seluruh tubuh anak ayam tersebut.
Selanjutnya anak anak ayam tersebut dipindah ke tempat lain (missal : chickguard atau kandang box) dengan diberikan makanan dan minuman. Makanan cukup diberikan dilantai kandang atau pada nampan yang rendah dengan jenis butiran halus agar anak ayam dapat mulai belajar makan. Minuman yang diberikan dapat ditambahkan vitamin seperti amylit dan vitachick. Khusus tempat minum, sebaiknya diberikan gundu atau kerikil kerikil kecil agar anak ayam tidak sampai tenggelam didalamnya.
Sedangkan untuk mesin incubatornya dapat dimatikan dan dibersihkan dari bulu bulu halus, pecahan pecahan kulit telur atau lainnya serta disemprot dengan bahan desinfektan atau dilakukan prosedur fumigasi. Sanitasi yang baik untuk mesin incubator penting untuk menjamin kebersihan dari bibit bibit penyakit.
Pengetesan Fertilitas Telur
Pengetesan fertilitas telur adalah suatu hal yang perlu dilakukan. Hal ini terutama diperlukan untuk menentukan jumlah telur yang fertile untuk terus ditetaskan sedangkan yang tidak fertile atau tidak bertunas harus disingkirkan karena tidak berguna dalam proses penetasan dan bahkan Cuma buang buang tenaga dan tempat saja. Padahal tempat yang ada dapat dimanfaatkan untuk telur telur fertile yang lain atau yang baru akan ditetaskan.
Tes fertilitas semacam ini tidak akan mempengaruhi perkembangan embrio telur, malah sebaliknya kita akan tahu seberapa normal perkembangan embrio didalam telur tersebut telah berkembang atau bertunas. Tatapi tetap sebagai hal yang terpenting dalam proses ini adalah mengetahui seberapa banyak telur yang fertile dan dapat menentukan langkah langkah yang diperlukan untuk telur yang tidak fertile terutama jika telur telur tersebut diberikan coretan / tulisan mengenai asal telur dan tanggal di telurkan oleh sang ayam maupun informasi asal kandangnya.
Ada beberapa istilah untuk alat melihat fertilitas telur disebut teropong telur atau tester atau candler. Alat ini mudah dibuat dengan cara menempatkan bohlam lampu dalam sebuah kotak atau silender yang dapat terbuat dari segala macam jenis baik kayu ataupun pralon 3 inch seperti pada gambar.
Cara membuatnya adalah dengan memotong pralon 3 inch sepanjang 20 cm dan menutup kedua ujungnya dengan kayu yang dibuat melingkar mengikuti pralon dan kemudian di mur. Bagian dalam diberikan fitting lampu dan sebuah bohlam lampu yang cukup terang (missal : 40 watt) dan satu ujung bagian atasnya pada bagian tengahnya diberikan lubang sebesar 2/5 besar diameter telur rata rata atau sekitar 2 cm.
Penggunaannya adalah dengan menyalakan bohlam lampu dan melalui lubang yang ada (pada bagian atasnya) diletakkan telur yang akan dilihat dengan cara menempelkan bagian bawah telur (bagian yang lebih tajam dari telur) ke lubang dan melihat perkembangan yang ada di dalam telur. Cara yang paling baik adalah dengan menggunakan alat ini pada ruangan yang gelap sehingga bagian dalam telur yang terkena bias cahaya lampu dapat lebih jelas terlihat.
Telur biasanya di test setelah 5 – 7 hari setelah di tempatkan dalam incubator. Telur dengan kulit yang putih seperti telur ayam kampung akan lebih mudah dilihat daripada telur negri atau yang warna kulitnya cokalat atau warna lainnya.
Pada saat test fertilitas, maka hanya telur yang ada bintik hitam dan jalur jalur darah yang halus yang akan terus di tetaskan. Tetapi singkirkan telur telur yang ada pita darahnya, tidak ada perubahan (tetap tidak ada perkembangan), ada blok kehitaman karena mati atau seperti contoh pada gambar berikut:
Apabila karena kurang pengalaman atau karena ragu ragu seperti missal menurut pengalaman kami perkembangan embrio kadang tidak terlihat jelas di bagian pinggir telur karena perkembangannya ada di tengah telur. Keadaan ini akan tampak seakan akan telur tidak berkembang tetpi nyatanya berkembang dengan baik.
Dalam kasus tersebut maka hal yang bijaksana adalah dengan mengembalikan telur telur tersebut kedalam incubator dan test kembali pada hari ke 10 atau 14 misalnya. Jika ternyata berkembang maka telur terus di tetaskan tetapi bila tidak maka harus dibuang.
Kegagalan Penetasan
Bila karena suatu sebab telur tersebut gagal untuk menetas maka harus dicari penyebab masalahnya. Dalam kasus kasus seperti ini maka klik link berikut untuk mengetahui penyebab dan penang-gulangannya serta memperbaikinya pada kesempatan penetasan berikutnya.
Akhirnya besar harapan kami, anda dapat menetaskan telur menjadi DOC yang berkualitas unggul.
Fumigasi
Sanitasi atau pembersihan terhadap telur dan peralatan penetasan dapat menggunakan sistim fumigasi. Fumigasi dengan tingkat yang rendah tidak akan membunuh bakteri dan bibit penyakit tetapi fumigasi yang terlalu tinggi dapat mebunuh embrio didalam telur. Maka dianjurkan untuk memakai ukuran yang tepat terhadap bahan kimia yang akan digunakan dalam melakukan fumigasi.
Dalam melakukan fumigasi, sebuah ruangan yang cukup atau kotak/lemari dengan dilengkapi rak tempat telur diperlukan untuk menampung semua telur telur yang akan di tetaskan dan dalam ruangan tersebut juga dilengkapi dengan kipas angin untuk sirkulasi udara didalamnya.
Susun telur telur yang ada didalam ruangan atau lemari dengan rak rak dari bahan berlubang lubang (seperti kawat nyamuk atau kasa) sehingga udara dapat bergerak bebas diantaranya. Bahan kimia yang biasa dipakai untuk fumigasi adalah gas Formaldehyde yang di hasilkan dari campuran 0.6 gram potassium permanganate (KmnO4) dengan 1.2 cc formalin (37.5 percent formaldehyde) untuk setiap kaki kubik ruangan yang dipakai. Buat campuran bahan bahan tersebut pada tempat terpisah sebanyak setidaknya 10 kali dari volume total ruangan atau lemari.
Sirkulasikan gas tersebut di dalam ruangan atau lemari selama 20 menit dan kemudian keluarkan / buang gas nya. Suhu yang diperlukan selama fumigasi adalah diatas 70oF. Selanjutnya biarkan telur telur tersebut di udara terbuka selama beberapa jam sebelum menempatkannya di dalam mesin incubator.